Mendaki Gunung Sindoro via Kledung

Rencana pendakian Gunung Sindoro yang diinisiasi oleh Yupi beberapa waktu yang lalu langsung saya iyakan. Pertama, saya memang sedang rindu naik gunung. Kedua, saya gagal berangkat pada kesempatan pertama bersama teman-teman kantor karena ada agenda lain yang mendadak.

Pendakian Gunung Sindoro

Gunung Sindoro dan gunung bayangan dari Puncak Sumbing. Photo credit: Masdan.

Dua tahun sebelumnya saya mendaki gunung Sumbing dan terlihat jelas gunung Sindoro di depan mata. “Saya harus ke sana!” pikir saya waktu itu. Akhirnya, tahun ini saya diberi kesempatan juga untuk mendaki Sindoro lewat jalur Kledung.

Transportasi ke Gunung Sindoro dari Surabaya

Dari Surabaya, transportasi ke gunung Sindoro menurut saya sedikit ribet. Ini karena tidak ada bus sekali angkut yang langsung sampai di terminal terdekat. Jadi untuk bisa sampai di basecamp pendakian Sindoro via Kledung harus menuju ke terminal Semarang terlebih dulu, baru kemudian dilanjutkan dengan bus jurusan Wonosobo/Purwokerto dan turun di depan basecamp.

Bus pertama jurusan Wonosobo ini baru tersedia sekitar jam 6 pagi dari SemarangJadi sepertinya kurang cocok jika mengejar pendakian pagi. Alternatif lain yang saya sempat cari infonya tapi belum saya coba adalah dengan menggunakan shuttle bus Sumber Alam yang tersedia bahkan dini hari, tapi harus naik dari tempat agen di Semarang.

Jalur Pendakian Gunung Sindoro via Kledung

Setelah empat jam melelahkan duduk di bus yang menurut saya seharusnya bisa jalan lebih cepat, akhirnya saya sampai juga di basecamp. Di sini saya sudah ditunggu dengan tiga teman yang lain, Yupi, Mbak Lina, dan Mas Ade. Oya, kami mendaki bersembilan, lima orang lainnya, Oki, Mas Bams, Mas Thuram, Gilang, dan Buya, sudah mulai mendaki dulu dan kami sepakat untuk bertemu di Pos 1.

Pendakian Gunung Sindoro

Tim Pendakian. (dari kiri) Saya, Mbak Lina, Yupi (tante), Buya, Mas Thuram, Gilang, Oki, (bawah) Mas Bams, Mas Ade

Jalur pendakian gunung Sindoro via Kledung ini terdiri setidaknya empat pos utama sebelum sampai di Puncak. Dari basecamp menuju pos 1 berupa jalan batu yang rapi melewati beberapa rumah warga dan juga perkebunan. Dari sini ada dua pilihan, jalan kaki dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam atau naik ojek 15 ribu hanya 15 menit? Dan kami pilih naik ojek, hehe… Berbeda dengan di Sumbing yang menggunakan motor trail, ojek di Sindoro ini masih bisa menggunakan motor bebek biasa. Dan kalau mau, bisa diantar sedikit lebih ke atas pos 1 dengan biaya tambahan 10 ribu. Tentu, bisa hemat beberapa menit untuk jalan ke pos 2.

Pendakian Gunung Sindoro

Trek landai yang memanjakan kaki dari Pos 1 ke Pos 2

Perjalanan awal menuju pos 2 masih terbilang landai, baru ketika mendekati pos 2 trek mulai menanjak. Di pos 2 ini kami beristirahat cukup lama, sempat buka flysheet karena kabut gerimis dan memasak minuman hangat.

Pendakian Gunung Sindoro

Meneduh di Pos 2. Tulisan putih: “Gunung Bukan Tempat Buang Sampah”

Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke pos 3 yang jaraknya lebih jauh, dan lebih menanjak. Cuaca saat itu memang kurang bersahabat, hujan turun lagi di perjalanan menuju pos 3, dan kali ini cukup deras. Kami tetap berjalan pelan-pelan, mencari pijakan yang pas, agar tidak terpeleset. Menjelang pos 3 hujan sudah mulai reda, tapi justru tanah bekas hujan ini yang bikin saya terpeleset, beberapa kali.

Pendakian Gunung Sindoro

Treknya mulai ngeri

Mas Thuram, Yupi, Oki, Gilang dan Buya sudah sampai lebih dulu di pos 3 dan mendirikan tenda. Saya dan tiga lainnya baru sampai sekitar 20 menit kemudian. Sampai di pos 3 tas kerir langsung saya lempar sekenanya, duduk, minum, dan rebahan. Niatnya ingin beristirahat agak lama, tapi baru sebentar duduk sudah hujan lagi. Duh.

Dari total empat tenda, tiga tenda dibangun ketika hujan turun. Hasilnya? Basah. Flysheet tenda belum terpasang sempurna dan menempel dibagian inner tenda, sehingga ada rembesan air yang masuk ke bagian dalam tenda. Hujan semakin deras membuat kami memutuskan untuk mengunggu reda untuk memperbaikinya. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di tenda masing-masing sambil unpack kerir dan ganti baju. Kebetulan saya satu tenda dengan Mas Ade, yang kurang beruntung karena sleeping bag-nya ikut basah karena rembesan air dari bagian bawah kerir. Ini seperti yang saya alami ketika mendaki Merapi dulu.

Tips: Sebelum masuk ke kerir, pastikan pakaian ganti, jaket, dan sleeping bag dibungkus dulu dengan plastik atau drybag.

Karena sudah gelap, lapar, dan kedinginan, ritual masak-masak kami mulai. Sebagai menu pembuka kami minum-minuman hangat dan makan mie untuk mengganjal perut. Kemudian, dilanjutkan dengan memasak menu spesial, tempe Mendoan ala Purwokerto yang dimasak secara khusus oleh orang aslinya.

Pendakian Gunung Sindoro

Mas Thuram dan asistennya, Buya, masak tempe Mendoan

Malam itu suasana berkabut dan sesekali gerimis membuat kami malas keluar tenda. Setelah makan malam kami langsung tertidur pulas.

Summit Attack:
Kami berencana untuk summit sekitar jam 3 pagi, karena berdasarkan informasi butuh waktu 3-4 jam untuk sampai di puncak. Tapi kami baru benar-benar berjalan jam 4 pagi. Ini karena hujan sempat turun lagi ketika kami bangun. Perjalanan menuju puncak Sindoro cukup menantang dan melelahkan, dengan trek tanah berbatu yang terus menanjak.

Pendakian Gunung Sindoro

Sunrise di perjalanan menuju puncak Sindoro

Setelah berjalan 3 jam yang terasa menyiksa, ternyata kami baru sampai di area Batu Tatah (Pos 4), itupun masih di bawahnya sedikit. Padahal dari pos 4 kami masih harus melewati Padang Edelweiss sebelum sampai ke puncak, yang menurut catatan masih 1,5 jam lagi. Ya Allah.

Setelah berdiskusi, akhirnya saya memutuskan untuk turun menemani teman-teman yang tidak bisa melanjutkan summit #alasan #aslinyacapek. Mas Bams, Oki, dan Buya melanjutkan ke puncak, sementara yang lain turun. Di sepanjang perjalanan turun kami bertemu banyak sekali pendaki yang ternyata ke puncak lebih siang dari kami. “Puncak masih jauh, Mas?”, kami jawab “Itu sudah kelihatan, Mas, sebentar lagi.”. Kami tidak ingin mematahkan semangat pendaki lain, meskipun kadang kita jujur kalau kita memang tidak sampai ke puncak.

Pendakian Gunung Sindoro

Mau ditemenin nggak, Mbak?

Pendakian Gunung Sindoro

Sebelah kiri adalah Pos 3 tempat tenda kami. Sebelah kanan adalah camping ground baru yang sebenarnya lebih nyaman digunakan tapi kami baru tau ketika sudah turun :(

Pendakian Gunung Sindoro

Mas Ade numpang foto di depan tenda orang

Sambil menunggu teman-teman yang ke puncak kami memasak apa saja yang bisa dimasak. Ada mie rebus, mie telor, telor mecin dan terong goreng. Semua bahan makanan kami masak agar turun nanti tidak terlalu berat.

Tidak lama, Mas Bams, Oki dan Buya ternyata sudah kembali ke tenda. Setelah makan, kami segera packing dan membereskan sampah. Ingat ya, sampah mesti dibawa turun lagi. Gunung bukan tempat sampah. Setidaknya kalau belum bisa bantu membersihkan gunung jangan ikut menambah sampahnya.

Tips: Bawa trashbag yang cukup untuk tempat sampah dan bawa kembali turun sampah sampai basecamp. Dan selama mendaki kalau ada tumpukan sampah di jalan bukan berarti itu tempat sampah yaa, kantongin dulu saja.

Saya biasanya suka sedikit lari kalau sedang turun gunung, tapi kondisi trek Sindoro yang berbatu membuatnya susah, apalagi banyak sekali trek yang licin, jadi harus bersabar. Di sini kami sempat bertemu dengan ranger dari Grasindo yang sedang mengevakuasi pendaki yang cidera dari pos 3. Sedikit kasihan melihat ranger-nya susah payah menuntun pendaki “besar” ini turun di trek berbatu. Kata salah satu ranger, mas-mas yang cidera ini umurnya baru 20 tahun, kakinya mungkin keseleo, dan dia lemas karena sejak semalam logistik sudah habis. Duh. Ini sebagai pengingat pentingnya persiapan sebelum mendaki gunung.

Saya termasuk rombongan belakang (lagi) kali ini, bersama Mbak Lina, Mas Bams, dan Mas Ade. Baru beberapa menit jalan dari pos 2 hujan sudah turun lagi. Deres. Dapat berkah hujan berkali-kali di pendakian kali ini. Semakin lama Mas Bams dan Mas Ade semakin tidak  terkejar. Kami berdua di belakang berjalan sambil berharap segera sampai di pangkalan ojek.

Pendakian Gunung Sindoro

Bertemu adik SD dan kakak-kakaknya naik Sindoro di perjalanan turun.

 

Sekitar satu jam kurang dari pos 2 akhirnya kami mendengar klakson sepeda motor. Yes, sudah dekat. Setelah sampai, tanpa tawar-menawar kami langsung naik ojeknya. Tarifnya 25 ribu diantar sampai basecamp. “Pak, ini gakpapa ya pak jalannya habis hujan gini? Gak licin?” | “Gak kok, Mas, aman.” Dan alhamdulillah selamat sampai tujuan.

Epilog

Pendakian ke gunung Sindoro kali ini menurut saya cukup menantang. Treknya yang merupakan gabungan antara trek tanah dan berbatu sukses membuat saya ngos-ngosan (mungkin karena saya kurang latihan juga). Namun, pemandangan selama perjalanan menuju puncak menurut saya sangat indah, terutama dengan latar gunung Sumbing dan sunrise-nya. Katanya, tujuan mendaki gunung itu pulang kembali dengan selamat, dan puncak adalah bonusnya. Dan yang lebih penting adalah menikmati perjalanan itu sendiri. Terima kasih teman-teman Sindoro, senang bisa mengenal kalian.

PS: Tulisan lain tentang Sindoro dari teman saya bisa dibaca di sini.

19 thoughts on “Mendaki Gunung Sindoro via Kledung

  1. sudah dua kali gue mendaki gunung sindoro 2 kali juga enggak muncak (sedih), adakah jalur yg lebih enak dari jalur pendakian gunung sindoro via kledung

    Like

  2. Sindoroo, hahahaha.
    Saya gagal, kira-kira sejam menjelang puncak. Karena, tiba-tiba, kok perut mendadak mulessssss gak bisa ditahan. Akhirnya mencret-mencret, melipir ke semak-semak… HAHAHAHA.

    Like

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s